4 Faktor Emosional yang Jadi Penyebab Suara Anak Kucing Berbeda

4 Faktor Emosional yang Jadi Penyebab Suara Anak Kucing Berbeda

Anak kucing sangatlah lucu. Ada saja tingkahnya yang menggemaskan dan mengundang tawa. Suara bayi kucing juga masih imut dan masih dalam volume kecil. Pernahkah Anda mendengar suara bayi kucing? Selain mengeong, ia juga mendengkur. Perbedaan suara tersebut dipengaruhi oleh 4 faktor emosional ini.

  1. Bahagia

Bahagia merupakan hal positif dalam diri setiap makhluk hidup, termasuk bayi kucing. Jika bayi kucing belum pandai mengeong, maka ia akan mengeluarkan suara dengkuran yang terdengar lembut dan berulang. Anak kucing yang mendengkur karena bahagia juga akan bertingkah lucu.

Jika sudah pandai mengeong, suaranya terdengar sangat lucu dan berkelanjutan sambil bertingkah lucu. Apabila demikian, anak kucing merasa bahagia dan sudah bisa mengabarkan dengan jelas bahwa ia merasa bahagia.

Hal tersebut merupakan pembeda antara suara dengkuran kucing yang bahagia dan suara kucing yang sedang tidak baik ataupun merasa terancam. Pemahaman terhadap suara kucing memang diperlukan agar setiap kondisi kucing terpantau. Pertumbuhannya akan berlangsung dengan baik.

  1. Keinginan Berinteraksi

Faktor emosional selanjutnya adalah keinginan berinteraksi. Anak kucing lama kelamaan ingin mengetahui keadaan lingkungan sekitar dan ingin memahaminya. Hal ini merupakan tahap awal dari kemampuannya dalam beradaptasi. Bayi kucing ingin berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya, termasuk Anda sebagai pemiliknya.

Anda merupakan salah satu orang yang sering dilihatnya dan paling peduli terhadapnya. Oleh karena itu, anak kucing menjadi hafal dan paham bahwa Anda bersahabat dan care kepadanya. Apabila Anda punya kucing lain, selain anak kucing dan induknya, maka ia juga akan mencoba berinteraksi.

Usahakan tidak ada perkelahian antara anak kucing dengan kucing lainnya. Hal ini harus dicegah dengan memantau setiap pergerakan kucing. Sebagai antisipasi, letakkan anak kucing di tempat yang aman.

  1. Kondisi Tubuh Lemah

Saat tubuh dalam kondisi lemah, tentunya akan mengeluh dan mengutarakan ketidaknyamanan. Sama halnya dengan anak kucing. Ia akan mendengkur atau mengeong berulang kali apabila merasakan tubuhnya kurang sehat. Anak kucing mengabarkan kondisi ini kepada induknya atau kepada Anda sebagai pemiliknya.

Suara yang dikeluarkan anak kucing saat kondisi tubuh lemah akan terdengar lemah dan berulang kali. Untuk itu, segera bertindak untuk memeriksa keadaan anak kucing. Upayakan untuk memeriksa kondisi kesehatan anak kucing secara berkala untuk menjaga kondisi kesehatannya agar stabil.

Pemeriksaan ke dokter hewan juga harus dilakukan apabila kucing mengalami kondisi kurang sehat, karena ditakutkan ia mengalami gangguan kesehatan yang serius. Dengkuran kucing saat tubuhnya lemah bisa jadi ada penyumbatan di hidung ataupun saluran pernapasan. Suara dengkurannya terdengar lemah dan berkelanjutan.

  1. Terancam

Keadaan yang membahayakan posisinya akan menimbulkan perasaan terancam untuk bayi kucing. Kondisinya yang masih lemah membuatnya snsitif apabila ada kucing lain yang mencoba mendekatinya. Saat ini, bayi kucing bisa mengeluarkan suara dengkuran. Suaranya ini terdengar berbeda. Dengkurannya terdengar jelas dan berat.

Ketika mendengar hal seperti ini, usahakan Anda segera menghampirinya dan memeriksa keadaan bayi kucing. Jangan sampai ia terlampau ketakutan, karena bisa berpengaruh pada psikologisnya. Selanjutnya, tempatkan anak kucing di lokasi yang aman dan nyaman agar perasaannya tenang.

Keadaan dalam diri atau kondisi internal memang berpengaruh pada mood dan perilaku. 4 faktor emosional pada bayi kucing tersebut bisa menjadi penyebab perbedaan suara yang dikeluarkannya. Anda bisa memperhatikan suara anak kucing dan mencoba memahami apa maksudnya. Pemahaman ini bisa dilakukan dengan memperhatikan gerak-geriknya.